Tampilkan postingan dengan label kesehatan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kesehatan. Tampilkan semua postingan

Selasa, 21 Juli 2020

Dampak Penggunaan Gawai pada Anak

Fenomena pemberian gawai pada balita kini sepertinya sudah tidak lagi asing terasa. Perkembangan teknologi yang pesat, disusul dengan aktivitas yang padat membuat beberapa orangtua memutuskan untuk memberikan gawai pada sang buah hati sebagai sarana hiburan. Alasannya sederhana, mengatasi rasa bosan dan rewel ketika ibu atau ayah harus bekerja. 

Namun, tahukah ibu jika hal tersebut sebenarnya tidak dianjurkan? Pemberian gawai terlalu dini pada anak, yang mengakibatkan anak terlalu lama berinteraksi dengan benda canggih ini memicu munculnya dampak negatif yang mengarah pada gejala yang mirip dengan autisme. 

Dikutip dari studi terbaru yang dipublikasikan dalam JAMA Pediatrics, usia bayi yang menginjak 12 bulan dan dibiarkan berinteraksi terlalu lama dengan benda elektronik yang lebih berisiko mengalami gejala mirip autisme ini. Efeknya tidak langsung terlihat, melainkan bisa muncul dua tahun kemudian. 

Analisis dilakukan dengan bertanya pada pengasuh dan orangtua pada usia bayi antara 12 hingga 18 bulan. Metode studi dilakukan dengan Modified Checklist for Autism in Toddlers (M-CHAT). Hasilnya bisa dibilang mengejutkan, karena ternyata akses pada gawai yang terlalu lama atau terlalu sering memiliki risiko 4 persen lebih besar untuk mengalami gejala yang mirip dengan autisme. 

Sementara itu, anak dengan usia yang sama yang lebih suka bermain, membaca, atau tidak berinteraksi dengan gawai memiliki risiko yang lebih rendah untuk mengalami gejala yang sama hingga 9 persen. Gejala utamanya mengarah pada ketertarikan anak yang dinilai kurang untuk berinteraksi dengan lingkungan sosial atau orang lain di sekitarnya. 



Dampak Lain pada Anak

Tidak hanya mengacu pada munculnya gejala yang mirip dengan autisme, orangtua harus mengetahui bahwa penggunaan gawai yang terlalu lama atau berlebihan pada balita, terlebih remaja tidak pernah memberikan dampak yang positif. Beberapa efek lain yang mungkin terjadi, yaitu:

  • Gangguan Tidur

Dilansir dari laman Parenting Firstcry, interaksi yang terlalu lama pada gawai membuat anak mengalami gangguan tidur yang mengarah pada kebiasaan begadang. Pasalnya, anak terbangun lebih lama untuk mengobrol atau chatting dengan teman, mengakses laman sosial media, bahkan bermain gim. 

  • Gangguan pada Aktivitas Otak

Fungsi ponsel yang paling utama ada pada gelombang elektromagnetik yang mengatur segala bentuk komunikasi yang terjalin. Otak memiliki impuls listrik sendiri dan komunikasi dilakukan dalam jaringan saraf. Pada anak, gelombang dari gawai ini dapat dengan mudah menembus ke dalam bagian otak karena tidak adanya pelindung yang kuat. 

  • Memicu Terbentuknya Tumor

Anak-anak yang memiliki kecenderungan untuk menggunakan ponsel untuk waktu lama memiliki risiko lebih tinggi mengalami tumor, terutama pada area telinga dan otak. Pasalnya, tulang, jaringan, dan lapisan pelindung untuk organ seperti otak masih sangat tipis pada anak. Oleh karena itu, organ ini akhirnya menyerap lebih dari 60 persen radiasi yang dipancarkan dari ponsel. 

American Academy of Pediatrics merekomendasikan, untuk anak-anak di bawah 18 bulan, hindari penggunaan media layar kecuali dari video call. Ketika anak-anak berusia 18 hingga 24 bulan, orangtua harus mendampingi anak ketika mengenalkan gawai. Anak-anak berusia 2 sampai 5 tahun, batasi penggunaan gawai 1 jam per hari dan orangtua harus membantu anak memahami apa yang mereka lihat.

Selain itu, bagi anak-anak berusia 6 tahun atau lebih tua, berikan batasan yang konsisten untuk penggunaan gawai setiap harinya, yaitu paling lama 2 jam. Pastikan gawai tidak menggantikan waktu tidur anak dan tidak membatasi aktivitas fisik yang ia lakukan.

sumber : https://www.halodoc.com

Bahaya Sinar Biru Smartphone untuk Bayi

Tak sedikit orangtua yang memanfaatkan smartphone untuk menenangkan anaknya. Apa kamu juga sering melakukan tindakan ini? Ajaib memang, gadget yang satu ini memang terbilang ampuh untuk membuat anak anteng. Masalahnya, penggunaan smartphone yang berlebihan bisa memicu berbagai masalah pada bayi atau anak. 

Lalu, apa sih bahaya smartphone untuk anak atau bayi? Benarkah sinar biru yang dipancarkan dari smartphone diduga bisa memicu gangguan mata pada bayi?

Digital Eye Strain Picu Masalah Mata

Menyoal mata, sinar biru sering kali dituding sebagai penyebab gangguan mata pada anak. Lantas, apa sih sebenarnya sinar biru itu? Pertama-tama kita harus memahami sinar matahari terlebih dahulu. Sinar matahari mengandung cahaya  merah, oranye, kuning, hijau, dan biru. Gabungan spektrum sinar cahaya berwarna ini menciptakan apa yang kita sebut “cahaya putih” atau sinar matahari.

Nah, cahaya atau sinar biru adalah cahaya tampak berenergi tinggi dan memiliki panjang gelombang lebih pendek. Disebut cahaya atau sinar biru karena berada pada pita ungu-biru spektrum. Sinar biru memang secara alami terdapat di sinar matahari, tetapi sinar ini juga bisa ditemukan di berbagai perangkat elektronik. Sebut saja TV, komputer, smartphone, dan tablet. Kembali ke pertanyaan di atas, apa sih bahaya smartphone untuk anak, khususnya sinar biru tersebut? 

Sinar biru bisa menimbulkan masalah yang disebut dengan digital eye strain (DES). Efek yang ditimbulkan DES bisa menyebabkan sederet gangguan pada mata. Misalnya, memicu mata kering, iritasi, mata merah, pandangan kabur, kelelahan mata, hingga mata berair. 

Tak cuma itu saja, bahaya sinar biru yang berlebihan juga bisa menyebabkan terganggunya pola tidur anak atau bayi. Menggunakan smartphone atau gadget dalam waktu yang lama dan jarak yang dekat, bisa menurunkan kualitas atau durasi tidur anak. Inilah yang membuat anak atau bayi jadi kurang aktif di siang hari. 

Sinar biru juga dikaitkan dengan penekanan hormon melatonin. Padahal, hormon inilah yang bisa membuat seseorang merasa mengantuk. Meski begitu, ada sejumlah faktor lainnya yang bisa menyebabkan menipisnya kualitas atau durasi tidur. 

Nah, segeralah temui atau tanyakan pada dokter bila Si Kecil mengalami gangguan mata atau tidur. Ibu bisa kok bertanya langsung pada dokter melalui aplikasi Halodoc.

Memicu Masalah Retina

Meski ada beberapa studi yang mendukung dan menolak, rasanya kita tak boleh mengabaikan bahaya smartphone pada anak yang lebih serius dari masalah di atas. Sinar biru dari perangkat elektronik seperti smartphone diduga bisa meningkatkan risiko miopi. 

Miopi juga dikenal sebagai rabun jauh. Kondisi ini terjadi karena mata tak bisa memfokuskan cahaya pada tempat yang semestinya, yaitu retina. Seseorang yang mengidap kondisi ini akan sulit melihat benda-benda jauh.

Menurut ahli The Eye Practice, Sydney, cahaya biru dari gadget seperti smartphones bisa menyebabkan kerusakan mata pada bagian belakang retina. Ia juga mengatakan, terlalu dekat dan menatap layar smartphone atau gadget dalam waktu lama tanpa berkedip adalah biang keladinya. Sebab, semakin dekat jarak mata terhadap layar, maka semakin kuat paparan cahaya dari gadget tersebut. Nah, kondisi inilah yang semakin meningkatkan risiko kemungkinan terjadinya kerusakan atau gangguan mata pada anak.

Berdasarkan rekomendasi ahli di American Academy of Pediatrics (AAP), semestinya bayi di bawah 18 bulan dijatuhkan dari paparan sinar biru. Sedangkan bagi mereka yang sudah menginjak usia dua tahun atau lebih, sebaiknya penggunaan smartphones atau gadget lainnya tak boleh lebih dari satu jam.


sumber: https://www.halodoc.com

Apa Saja Dampak Sinar Biru Gadget pada Kesehatan?


Walaupun kadar energi yang dipancarkan tak sebesar sinar biru dari matahari, sinar biru gadget bisa berdampak buruk secara jangka panjang bagi mata. Berikut ini dampak sinar biru gadget yang perlu diwaspadai:

1. Menyebabkan Kelelahan pada Mata

Perangkat digital seperti gadget sebenarnya tidak merusak mata. Namun, terlalu lama menggunakan gadget bisa menyebabkan ketegangan pada mata yang bisa berdampak negatif terhadap kesehatan mata. Alasannya karena bermain gadget bisa menurunkan jumlah kedipan mata yang memicu kelelahan pada mata. Ketegangan mata ini disebut dengan computer vision syndrome (CVS).

Gejala CVS biasanya muncul setelah bermain gadget selama 20 jam yang ditandai dengan mata kering, mata berair, penglihatan kabur atau ganda, peka terhadap cahaya silau, sulit berkonsentrasi, sulit membuka mata, sakit kepala, serta nyeri di leher, bahu dan punggung.

2. Menyebabkan Sulit Tidur

Studi dari Universitas Monash, Australia menyebutkan bahwa sinar biru gadget bisa mengganggu siklus tidur seseorang. Alasannya karena paparan sinar biru gadget menurunkan kadar hormon melatonin dalam tubuh hingga 23 persen. Melatonin adalah zat alami tubuh yang membantu seseorang tidur, sehingga penurunan kadar hormon ini bisa menyebabkan sulit tidur hingga insomnia.

3. Menyebabkan Kerusakan Retina dan Kornea

Sinar biru bisa masuk ke dalam mata. Sayangnya, mata manusia tidak memiliki perlindungan untuk paparan sinar biru, baik yang berasal dari sinar matahari atau peralatan elektronik. Sinar biru termasuk sinar yang paling berbahaya bagi retina karena bisa menimbulkan efek jangka panjang berupa kerusakan pada retina. Pada paparan sinar biru yang berlebih, seseorang mungkin saja mengalami degenerasi makula, glaukoma, penyakit retina degeneratif bahkan kebutaan. Terpapar sinar biru secara terus-menerus juga bisa membuat kornea dan lensa mata tidak berdaya dalam memblokir atau memantulkannya.

Cara Mengurangi Dampak Sinar Biru Badget

Salah satu cara untuk melindungi mata dari sinar biru adalah sebisa mungkin hindari menggunakan smartphone dalam kegelapan. Selain itu, kamu bisa menurunkan tingkat pencahayaan yang tersedia di perangkat elektronik atau bisa juga menyalakan mode malam hari yang tersedia. Gangguan ini juga bisa dicegah dengan menerapkan metode 20-20-20 saat bermain gadget, yaitu istirahatkan mata setelah 20 menit bermain gadget dengan mengarahkan pandangan mata untuk fokus pada objek yang jauh (sekitar 20 kaki atau 6 meter) selama 20 detik.


sumber: https://www.halodoc.com

Bahaya Akibat Paparan Sinar Biru dari Layar Gadget



Dalam ilmu kesehatan mata, blue light atau sinar biru digolongkan sebagai high-energy visible light (HEV light), yaitu sinar tampak dengan panjang gelombang pendek, sekitar 415 hingga 455 nm, dan tingkat energi yang tinggi. Sumber alami terbesar dari sinar jenis ini adalah matahari. Selain matahari, sinar biru juga berasal dari berbagai layar digital, seperti layar komputer, televisi, maupun smartphone dan peralatan elektronik lainnya untuk meningkatkan keterangan dan kejelasan layar. Beberapa jenis pencahayaan modern, seperti lampu LED (light-emitting diode) dan CFL (compact fluorescent lamps), juga mengemisikan sinar biru dalam level yang tinggi.

Karena terkandung pada sinar matahari, maka manusia akan sering terpapar sinar biru pada saat beraktivitas di luar ruangan pada siang hari. Pada siang hari, sinar biru merupakan sinar yang bermanfaat dalam meningkatkan perhatian dan mood seseorang. Sinar biru dari matahari juga berperan dalam pengaturan siklus tidur alami seseorang, dikenal sebagai circadian rhythm. Namun, sinar biru akan menjadi hal berbahaya bagi kesehatan seseorang ketika seseorang terlalu sering terkena paparan sinar biru yang berasal dari layar perangkat elektronik pada malam hari. Apa saja risiko yang mungkin terjadi?

1. Mengganggu ritme sirkadian

Paparan sinar biru yang berlebihan pada malam hari bisa menyebabkan penurunan dalam produksi hormon melatonin, yaitu hormon yang mengatur siklus tidur seseorang. Secara normal, tubuh memproduksi hormon melatonin dalam jumlah yang sedikit pada siang hari, kemudian akan bertambah jumlahnya pada malam hari, beberapa jam sebelum tidur, dan mencapai puncaknya pada tengah malam. Terlalu banyak terkena paparan sinar, terutama sinar biru, pada malam hari mengakibatkan mundurnya jadwal tidur seseorang, bahkan bisa me-reset jam tidur orang tersebut pada jangka waktu yang panjang.

Sejak tahun 1990-an, para ilmuwan melakukan ratusan percobaan mengenai hubungan antara produksi melatonin dalam tubuh dan panjang gelombang sinar. Hasil dari percobaan ini menunjukkan bahwa manusia menghasilkan puncak sensitivas pada sinar yang berada dalam panjang gelombang spektrum sinar biru. Pada tahun 2014, para ahli neurosains juga meneliti tentang perbedaan jam tidur orang yang membaca buku menggunakan kertas dengan orang yang membaca buku menggunakan perangkat digital, lebih dikenal sebagai e-book. Ketika memasuki jam tidur yang telah ditentukan, para partisipan yang membaca buku melalui perangkat digital masih terlihat segar dan membutuhkan waktu yang lebih lama untuk tertidur, serta mempunyai fase REM (Rapid Eye Movement) lebih sedikit dibanding mereka yang membaca buku melalui media kertas. Setelah melewati delapan jam waktu tidur, mereka yang membaca menggunakan perangkat digital menjadi lebih mengantuk dan membutuhkan waktu yang lebih lama untuk bangun. Hal ini menunjukkan bahwa terkena paparan sinar biru dari perangkat digital bisa mengubah circadian rhythm atau jadwal tidur seseorang.

2. Menyebabkan kerusakan retina

Seperti sinar tampak lainnya, sinar biru bisa masuk ke dalam mata. Tapi, mata manusia tidak mempunyai proteksi yang cukup dari paparan sinar biru, baik yang berasal dari sinar matahari maupun peralatan elektronik. Sebuah studi dari Harvard menyatakan bahwa sinar biru telah lama diidentifikasikan sebagai sinar yang paling berbahaya bagi retina. Setelah menembus bagian luar mata, sinar biru akan mencapai bagian terdalam mata, yaitu retina, dan bisa menimbulkan efek jangka panjang berupa kerusakan pada retina. Pada paparan sinar biru yang berlebih, risiko seseorang untuk terkena degenerasi makula, glaukoma, dan penyakit retina degeneratif.

Lebih lanjut, dalam panjang gelombang tertentu, sinar biru dihubungkan dengan age-related macular degeneration (AMD) atau degenerasi makula yang bisa berujung pada hilangnya kemampuan melihat. AMD merupakan kemunduran dari makula, bagian retina yang berisi sel dan pigmen makular, yang berperan dalam mengontrol ketajaman penglihatan (visual acuity). Kesehatan makula mempengaruhi kemampuan mata untuk melihat sesuatu dalam detail yang jelas. Pada anak-anak di bawah sepuluh tahun, hal ini akan menimbulkan risiko yang lebih tinggi karena kondisi mata yang belum sepenuhnya sempurna. Lensa dan kornea mata anak masih sangat transparan dan rentan terekspos sinar, sehingga teralu banyak paparan sinar biru merupakan hal yang harus dihindari demi menjaga mata anak.

3. Menyebabkan kelelahan pada mata

Seiring dengan perkembangan jaman, kebanyakan orang menghabiskan waktu di depan layar digital, mulai dari layar komputer di tempat kerja, telepon genggam pribadi, hingga layar televisi. Kegiatan-kegiatan ini menyebabkan suatu kondisi kelelahan mata yang dikenal sebagai digital eyestrain, suatu kondisi medis yang bisa mempengaruhi produktivitas seseorang. Gejala dari digital eyestrain antara lain pandangan yang kabur, susah fokus, mata iritasi dan kering, sakit kepala, leher, hingga punggung. Selain jarak antara mata dengan layar dan durasi penggunaan, sinar biru yang diemisikan oleh layar juga berperan sebagai faktor kunci dari kelelahan mata ini.

Kebiasaan memainkan perangkat elektronik pada malam hari memang sulit dihilangkan, tapi untuk mengurangi risiko dari paparan sinar biru, kita bisa menurunkan tingkat pencahayaan yang tersedia di perangkat elektronik atau menyalakan mode malam hari yang tersedia. Namun, untuk memangkas habis risiko-risiko kesehatan yang bisa ditimbulkan oleh paparan sinar biru pada malam hari, kita harus menjauhkan atau mematikan perangkat elektronik pada malam hari beberapa jam sebelum tidur dan mematikan lampu pada saat tidur.

sumber: https://hellosehat.com/

Faktor Risiko Glaukoma

Semua orang berisiko untuk menderitaglaukoma, tetapi ada beberapa golongan dengan risiko lebih tinggi. Untuk itu gaya hidup sehat harus dite...